Belajar Askep
.

Sunday, April 17, 2011

Browse » Home » » Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Hirschprung

Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Hirschprung

Bagikan Keteman Lewat:



BAB I - TINJAUAN TEORI
DEFINISI
Penyakit Hirschprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan 3 kg, lebih banyak laki – laki daripada perempuan. ( Arief, Mansjoer, 2000 ).
Hirschprung adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid colon. Dan ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan. (Betz, Cecily & Sowden, 2000).
Hirschprung adalah ketiadaan kongenital ganglion otonom yang mempersarafi pleksus mienterikus ditaut antorektum dan seluruh atau sebagian rektum dan kolon ganglion otonom ke pleksus mienterikus secara normal merangsang motilitas dan memastikan penyaluran tinja. Pada penyakit hirschprung, tinja menumpuk di usus. ( Crowin, J, EL, Zabeth, 2000:533 )
Penyakit Hirschprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus.
( Ngastiyah,1997:138 )
 MACAM – MACAM PENYAKIT HIRSCHPRUNG
Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu :
Penyakit Hirschprung segmen pendek
Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan 70% dari kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.
Penyakit Hirschprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki maupun prempuan.
(Ngastiyah, 1997 : 138)
ETIOLOGI
Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel ”Neural Crest” ambrional yang berimigrasi ke dalam dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus dan submukoisa untuk berkembang ke arah kranio kaudal di dalam dinding usus.
Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus Auerbach di kolon.
Sebagian besar segmen yang aganglionik mengenai rectum dan bagian bawah kolon sigmoid dan terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada kolon.
Sering terjadi pada anak dengan ”Down Syndrome”.
Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi kraniokaudal pada nyenterik dan submukosa dinding pleksus.
(Suriadi, 2001 : 242).
MANIFESTASI KLINIS
Kegagalan lewatnya mekonium dalam 24 jam pertama kehidupan.
Konstipasi kronik mulai dari bulan pertama kehidupan dengan terlihat tinja seperti pita.
Obstruksi usus dalam periode neonatal.
Nyeri abdomen dan distensi.
Gangguan pertumbuhan.
(Suriadi, 2001 : 242)
Obstruk total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evaluai mekonium.
Keterlambatan evaluasi mekonium diikuti obstruksi periodic yang membaik secara spontan maupun dengan edema.
Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.
Konstruksi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Diare berbau busuk dapat menjadi satu-satunya gejala.
Gejala hanya konstipasi ringan.
(Mansjoer, 2000 : 380)
Masa Neonatal :
Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir.
Muntah berisi empedu.
Enggan minum.
Distensi abdomen.
Masa bayi dan anak-anak :
Konstipasi
Diare berulang
Tinja seperti pita, berbau busuk
Distensi abdomen
Gagal tumbuh
(Betz, 2002 : 197)
PATOFISIOLOGI
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon. ( Betz, Cecily & Sowden, 2002:197).
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar (Price, S & Wilson, 1995 : 14).
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat penghisap and mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
Biopsy otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.
Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada penyakit ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin enterase.
Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.
(Ngatsiyah, 1997 : 139)
Foto abdomen : untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
Enema barium : untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
Biopsi rectal : untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.
Manometri anorektal : untuk mencatat respons refleks sfingter interna dan eksterna.
(Betz, 2002 : 197).
KOMPLIKASI
Gawat pernapasan (akut)
Enterokolitis (akut)
Striktura ani (pasca bedah)
Inkontinensia (jangka panjang)
(Betz, 2002 : 197)
Obstruksi usus
Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
Konstipasi
(Suriadi, 2001 : 241)
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Tanggal :
Oleh :
Jam :
No. CM :
IDENTITAS
Identitas pasien
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Identitas penanggung jawab
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat :
Riwayat kesehatan
Keluhan utama
Klien tidak dapat buang air besar selama 3 hari.
Riwayat kesehatan sekarang
An. A masuk ke Rumah Sakit dengan keluhan perut membesar, tidak dapat BAB selama 3 hari, anoreksia, kembung. Pada saat dilakukan pengkajian oleh perawat didapatkan suhu 38 oC, RR 25 x/menit dan nadi 35 x/menit.
Riwayat kesehatan dahulu
Orang tua klien mengatakan klien sering mengalami konstipasi sebelumnya.
Riwayat kesehatan keluarga
Orang tua klien mengatakan pada keluarga klien tidak terdapat anggota keluarga yang memiliki penyakit seperti klien.
Riwayat alergi
Orang tua klien mengatakan klien tidak mempunyai riwayat alergi terhadap apapun.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital :
TD :
S : 38 oC
RR : 25 x/menit
Nadi : 35 x/menit
Sistem pernafasan
Frekuensi pernafasan klien 25 x/menit. Pernafasan klien teratur, klien bernafas melalui hidung. Pada saai di inspeksi tidak terdapat pernafasan cuping hidung, bunyi nafas klien bersih dan tidak terdapat sekret.
Sistem penglihatan
Pada sat dikaji penglihatan klien baik, kunjungtiva an enemis, sklera an ikhterik, pupil isokor, bola mata klien simetris.
Sistem pendengaran
Pada saat dikaji pendengartan klien bai. Pada saat di inspeksi tidak terdapat serumen pada telinga klien, telinga klien bersih.
Sistem pengecap
Pada sat dikaji bibir klien merah muda, lembab dan simetris. Pengkajian pada pengecapan rasa tidak dikaji.
Dada
Pada saat dikaji dada klien simetris an tidak terdapat reflek dada.
Sistem kardiovaskuler
Pada saat diauskultasi bunyi jantung klien teratur. Nadi klien 35 x/menit.
Abdomen / sistem pencernaan
Pada saat diinspeksi bentuk abdomen klien buncit, ketika dipalpai terasa tegang. Klaen belum BAB selama 3 hari
Sistem perlkemihan
Tidak terdapat gangguan sistem urinari. Warna urine klien kuning jernih
Genetalia
Tidak terdapat tanda peradangan dan pembengkakan. Terdapat rectum yang terbuka.
Integumen
Kulit klien lembab, turgor kulit baik, tidak terdpat eritema dan edema
Ekstremitas
Pada ekstremitas kanan atas terpasang infuse, ekstremitas atas bawah lengkap dan tidak terdapat kelainan.
Pemeriksaan Diagnostik
Foto abdomen : terlihat usus-usus memlebar, terdapat obstruksi rendah
X-ray
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan eliminasi (BAB) b.d konstipasi
Infeksi colon b.d peningkatan bakteri
Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia
Gangguan rasa nyaman : abdomen membuncit b.d penimbunan feses di abdomen.
INTERVENSI
Gangguan eliminasi (BAB) b.d konstipasi
Intervensi :
kaji warna, jumlah, konsistensi, dan frekuensi feses
auskultasi bising usus
monitor intake dan output
diskusikan penggunaan pelunak feses dan pemberian enema bila diperlukan
kolaborasi konsultasi dengan ahli gizi untuk mengatur makanan yang seimbang dan tinggi serat
Rasional :
membantu dalam mengidentifikasi penyebab dan faktor yang mempengaruhi, serta membantu dalam menentukan intervensi yang tepat
bising usu biasanya meningkat pada saat konstipasi
membantu mengidentifikasi dehidrasi dan kekurangan nutrisi
memfasilitasi defeksi saat konstipasi terjadi
serat dapat menyerap cairan dan membuat fese menjadi solid dan akhirnya menstimulasi defekasi
Infeksi colon b.d peningkatan bakteri
Intervensi :
pantau TTV, perhatikan peningkatan suhu
berikan informasi tentang penyakit yang tepat, jujur pada pasien / orang terdekat
kolaborasi pengambilan contoh drainase bila diindikasikan
kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi
Rasional :
suhu malam hari memuncak yang kembali normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi
pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas
kultur pewarnaan gram dan sensivitas berguna untu mengidentifikasi organisme penyebab dan pilihan terapi
diberikan secara profilatik . menurunkan jumlah organisme untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhan pada rongga abdomen
Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia
Intervensi :
buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian
timbang berat badan setiap hari
dorong tirah bring atau pembatasan aktivitas selama fase akut
catat intake dan output makanan klien
kolaborasi pemberian cairan parenteral
pemberian obat sesuai indikasi (Siprokeptadin, anti depresan trisilik)
Rasional :
malnutrisi adalah ganguan minat yang menyebabkan depresi, agitas dan mempengaruhi fungsi kognitif / pengambilan keputusan. Perbaikan status nutrisi meningkatkan kemampua berfikir dan kerja psikologis
memberikan informai tentang kebutuhan diit / keefektifan terapi
menurunkan +kebutuha metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi
mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi
mempertahankan istirahat usus klien, mencukupi kebutuhan nutrisi
untuk merangsang nafsu makan
Gangguan rasa nyaman : abdomen membuncit b.d penimbunan feses di abdomen.
Intervensi :
kaji terhadap rasa nyeri
berikan tindakan kenyamanan : nafas dalam, teknik relaksasi dan distraksi
berikan suasana/lingkungan yang tenang dan nyaman
kolaborasi pemberian obat analgesik sesuai indikasi
Rasional :
membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan / perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi
meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian
menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi rasa tidak nyaman
untuk mengurangi rasa nyeri
DAFTAR PUSTAKA
Arif M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid 2, Media Aesculapius,Jakarta:FKUI
Cecily. L Betz, 2002, Buku Saku Keperawatan Pediatri, Alih bahasa Jan Tambayong,Jakarta: EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 1, Jakarta
: Infomedika
Sodeman, 1995, Patofisiologi Sodeman : Mekanisme Penyakit, Editor, Joko Suyono, Jakarta
: Hipocrates
Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Hirschprung Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!

Comments : Ada 0 komentar untuk Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Hirschprung

Post a Comment

 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |