Belajar Askep
.

Sunday, April 10, 2011

Browse » Home » , » Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 2

Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 2

Bagikan Keteman Lewat:




Berikan Bantuan Pernafasan

Berikan 2 kali bantuan pernapasan, setiap 1 detik, dengan volume yang cukup untuk dapat mengembangkan dada. Merekomendasikan lamanya memberikan bantuan pernapasan sampai dada mengembang adalah 1 detik demikian halnya berlaku jika bantuan pernapasan diberikan melalui mulut ke mulut dan mulut ke sungkup muka dan ventilasi melalui advanced airway, dan tanpa penambahan oksigen . Selama RJP kegunaan dari ventilasi adalah mempertahankan kadar oksigen yang adekuat, tetapi keadaan paling baik untuk volume tidal, kecepatan pernapasan, dan penambahan konsentrasi oksigen belum diketahui.

Rekomendasi secara umum dapat dilakukan:

1. Selama menit pertama fibrilasi ventrikel, bantuan pernapasan mungkin tidak sepenting kompresi dada karena kadar oksigen di dalam darah masih tersisa cukup banyak untuk beberapa menit setelah henti jantung. Pada awal henti jantung, aliran oksigen ke miokardium dan otak terhenti disebabkan berkurangnya aliran darah dan juga kadar oksigen di dalam darah. Selama RJP aliran darah dapat terjadi akibat kompresi dada. Penolong harus dapat memberikan kompresi dada yang efektif dan mengurangi selama sesuatu yang dapat menghentikan kompresi dada.

2. Ventilasi dan kompresi keduanya sangat penting untuk korban dengan fibrilasi ventrikel, ketika oksigen didalam darah telah dipergunakan. Ventilasi dan kompresi juga sangat penting untuk korban akibat Asfiksia, seperti pada anak dan korban tenggelam yang mengalami hipoksemia saat henti jantung.

3. Selama RJP aliran darah ke paru-paru sangat berkurang, oleh sebab itu ratio ventilasi-perfusi dapat dipertahankan dengan volume tidal yang kecil dan kecepatan pernapasan yang normal. Penolong tidak boleh melakukan Hiperventilasi (terlalu banyak meniup atau terlalu besar volume udara). Ventilasi yang berlebihan tidaklah perlu dan berbahaya karena peningkatan tekanan intrathorakal akan menurunkan aliran balik (venous return) ke jantung, dan mengurangi curah jantung (cardiac output) dan mengurangi kelangsungan hidup.

4. Hindari pemberian pernapasan yang terlalu banyak dan terlalu kuat. Pernapasan yang demikian tidak diperlukan dan dapat menyebabkan kembung (distensi lambung) dan dapat menimbulkan komplikasi pada paru-paru.

5. Bantuan napas dari Mulut-ke-Mulut Bantuan pernapasan dari Mulut-ke-Mulut memberikan oksigen dan ventilasi kepada korban. Untuk memberikan bantuan pernapasan mulut-ke-mulut, bukan jalan napas korban, tutup cuping hidung korban, dan mulut penolong mencakup seluruh mulut korban. Berikan 1 kali pernapasan dalam waktu 1 detik, berikan pernapasan biasa, dan berikan bantuan pernapasan kedua dalam waktu 1 detik. memberikan bantuan pernapasan secara biasa untuk mencegah penolong mengalami pusing atau berkunang-kunang. Penyebab umum terjadinya kesulitan ventilasi adalah ketidaktepatan dalam membuka jalan napas, jadi jika dada korban tidak mengembang pada bantuan pernapasan yang pertama, lakukan kembali tengadah kepala topang dagu dan berikan bantuan pernapasan yang kedua.

Bantuan pernapasan dari Mulut-ke-Alat Pelindung pernapasan

Walapun aman, beberapa petugas kesehatan dan penolong awam ragu-ragu untuk melakukan bantuan pernapasan dengan cara Mulut-ke-Mulut dan lebih suka menggunakan alat pelindung. Alat pelindung bantuan pernapasan tidak dapat mengurangi risiko penularan penyakit, dan dapat meningkatkan tahanan aliran udara. Jika anda menggunakan alat pelindung, jangan sampai terlambat memberikan bantuan pernapasan. Alat pelindung terdiri dari 2 tipe 1. Pelindung Wajah 2. Sungkup Wajah Pelindung wajah berbentuk selembar plastik bening atau lembaran silikon yang dapat mengurangi sentuhan antara korban dan penolong tetapi tidak dapat mencegah terjadinya kontaminasi pada sisi penolong. Sungkup wajah ada yang telah dilengkapi dengan lubang untuk memasukan oksigen, ketika oksigen telah tersedia berikan oksigen dengan aliran sebanyak 10-12 liter/menit.

Ventilasi dari Mulut-ke-Hidung dan Mulut-ke-Stoma

Ventilasi Mulut-ke-hidung direkomendasikan jika pemberian ventilasi melalui mulut korban tidak dapat dilakukan (misalnya luka yang sangat berat pada mulut), mulut tidak dapat dibuka, korban berada di dalam air, atau mencakup mulut korban tidak dapat dilakukan. Pada beberapa kasus tindakan bantuan pernapasan Mulut-ke- Hidung pada orang dewasa mudah dilakukan, aman, dan efektif. Berikan bantuan pernapasan pada korban dengan Trakhea Stoma yang memerlukan pernapasan. Alternatif lain dapat dipergunakan sungkup muka anak-anak untuk memberikan bantuan pernapasan melalui Trakhea Stoma. Tidak ada penelitian mengenai keamanan, keefektifan, ventilasi dari mulut-ke-stoma.

Ventilasi

Bagging-Sungkup


Ventilasi bagging-sungkup memerlukan keterampilan untuk dapat melakukannya. Penolong seorang diri menggunakan alat bagging-sungkup harus dapat mempertahankan terbukanya jalan napas dengan menggangkat rahang bawah, tekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memeras bagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiap pernapasan. Bagging-sungkup sangat efektif bila dilakukan oleh 2 penolong dan berpengalaman.

Salah seorang penolong membuka jalan napas dan menempelkan sungkup ke wajah korban sambil penolong lain memeras bagging. Keduanya harus memperhatikan pengembangan dada korban. Penolong harus menggunakan bagging ukuran dewasa (1-2 liter) untuk memberikan volume tidal yang cukup mengembangkan dada korban. Jika jalan napas terbuka dan tidak ada kebocoran, volume udara yang diberikan dengan menggunakan bagging berukuran 1 liter sekitar 1/2 sampai % dari volume bagging atau jika menggunakan bagging berukuran 2 liter volume udara yang diberikan 1/2 dari volume bagging.

Selama korban belum di pasang Endotracheal tube, penolong harus melakukan 30 kompresi dada dan 2 ventilasi. Penolong memberikan pernapasan selama kompresi berhenti sejenak dalam waktu 1 detik.. Petugas kesehatan dapat mempergunakan tambahan oksigen (10-12 liter/menit) jika tersedia. Idealnya bagging dengan kantong oksigen dapat memberikan oksigen 100%.

Ventilasi dengan advanced airway

Ketika korban selama RJP telah terpasang Advanced airway , 2 orang penolong tidak lagi menggunakan siklus. Sebagai penggantinya kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit tanpa berhenti untuk memberikan ventilasi. Penolong memberikan ventilasi 8-10 kali/menit. Kedua penolong harus bergantian dalam melakukan kompresi dan ventilasi setelah melakukan RJP selama 2 menit untuk mencegah kelelahan pada penolong yang melakukan kompresi sehingga terjadi kekacauan dalam hal kualitas dan kecepatan kompresi dada.

Jika penolong dalam jumlah banyak, lakukan rotasi kompresi dada setiap 2 menit. Penolong harus menghindari pemberian ventilasi yang terlalu banyak lebih baik sesuai dengan jumlah pernapasan yang direkomendasikan dan membatasi volume tidal hanya sampai dada mengembang . Pada penelitian memperlihatkan pemberian napas lebih dari 12 kali/menit selama RJP mempunyai peranan dalam meningkatkan tekanan intrathorak, mengurangi aliran balik ke jantung selama kompresi dada. Pengurangan aliran balik ke jantung menyebabkan curah jantung menurun selama kompresi dada dan juga mengurangi aliran darah ke arteri koroner dan perfusi otak. Pentingnya penolong mempertahankan kecepatan ventilasi 8-10 kali/menit selama RJP dan jangan memperbanyak ventilasi.

Cek Denyut Nadi

Penolong awam sebanyak 10% gagal dalam menilai ketidakadaan denyut nadi dan sebanyak 40% gagal dalam menilai adanya denyut nadi. Untuk mempermudah dalam pelatihan, penolong awam akan diajarkan untuk mengasumsikan jika korban tidak sadar dan tidak bernapas maka korban juga mengalami henti jantung. Petugas kesehatan dapat juga memerlukan waktu lama dalam menilai denyut nadi dan mengalami kesulitan menentukan ada tidaknya denyut nadi. Petugas kesehatan tidak boleh melebihi waktu 10 detik dalam menilai ada tidaknya denyut nadi. Jika dalam 10 detik tidak juga dapat menentukan ada tidaknya denyut nadi, lakukan kompresi dada.

Bantuan pernapasan tanpa kompresi dada

Jika korban dewasa dengan sirkulasi spontan (denyut nadi teraba) berikan pernolongan atau bantuan pernapasan, berikan bentuan pernapasan dengan kecepatan 10-12 kali/menit atau 1 kali pernapasan diberikan setiap 5-6 detik. Setiap pernapasan diberikan dalam waktu 1 detik tanpa menghiraukan apakah advanced airway terpasang atau tidak. Setiap pernapasan harus dapat mengembangkan dada. Selama pemberian bantuan pernapasan, ulangi pemeriksaan denyut nadi setiap 2 menit, tetapi tidak melebihi waktu 10 detik dalm menilai denyut nadi.

Kompresi Dada

Kompresi dada merupakan tindakan yang berirama berupa penekanan pada tulang sternum bagian setengah bawah. Kompresi dada dapat menimbulkan aliran darah dikarenakan peningkatan tekanan intrathorak dan kompresi langsung pada jantung. Walaupun kompresi dada dapat menimbulkan tekanan sistolik pada arteri, namun tekananya hanya 60-80 mmHg, tekanan diastolik sangat rendah dan tekanan arteri didalam arteri karotis jarang mencapai 40 mmHg. Aliran darah yang ditimbulkan oleh kompresi dada sangatlah kecil, tetapi sangat penting untuk dapat membawa oksigen ke otak dan otot jantung.

Pada korban dengan fibrilasi ventrikel kompresi dada dapat meningkatkan keberhasilan melakukan tindakan defibrilasi. Beberapa kesimpulan tentang kompresi dada pada Konfrensi konsensus 2005 adalah sebagai berikut: 1. Kompresi dada yang efektif merupakan dasar untuk dapat menimbulkan aliran darah selama RJP. 2. untuk dapat memberikan kompresi dada yang efektif dengan cara tekan yang keras dan tekan dengan cepat. Kompresi dada pada orang dewasa kecepatannya adalah 100 kali/menit, dengan kedalaman kompresi 11/2 -2 inch (4-5 cm). 3. Mengurangi penghentiart kompresi dada.

Cara melakukan kompresi dada

Untuk dapat memaksimalkan keefekrifan kompresi dada, korban harus dalam posisi terlentang diatas alas yang keras (mis : papan punggung atau lantai) dengan posisi penolong berlurut di sisi korban setinggi thorak. Penolong dapat menekan setengah bawah dari tulang sternum korban di tengah dada, diantara kedua puting susu. Penolong dapat meletakkan telapak tangan pertama diatas tulang sternum di tengah dada diantara kedua puting dan letakan telapak tangan kedua diatas telapak tangan pertama sehingga telapak tangan akan saling bertumpuk dan paralel. Tekanlan tulang sternum sedalam 11/2-2 inch (kira-kira 4-5 cm) dan membiarkan dada kembali keposisi normal.

Dengan membiarkan dada kembali ke posisi normal menyebabkan terjadinya aliran balik ke jantung, ini sangat penting untuk keefektifan RJP, dan harus diberi penekanan pada saat memberikan pelatihan. Waktu kompresi dan relaksasi dada kira-kira haruslah sama. Pada penelitian tentang kompresi dada di dalam dan di luar rumah sakit menunjukkan bahwa 40% kompresi dada kurang kedalamannya. Penolong harus berlatih melakukan kompresi dada dengan baik, dan bergantian dengan yang lain setiap beberapa menit untuk mengurangi kelelahan yang menyebabkan tidak adekuatnya kedalaman kompresi dan kecepatan kecepatan kompresi. Penelitian pada manusia melakukan kompresi dada dengan kecepatan > 80 kali/menit menghasilkan aliran darah selama RJP, oleh karena itu kecepatan kompresi yang direkomendasikan adalah 100 kali/menit.

Ratio kompresi-ventilasi

Ratio kompresi-ventilasi yang direkomendasikan adalah 30 : 2. Ratio ini merupakan hasil konsensus dasar dari para ahli. Rasio ini dibuat untuk meningkatkan jumlah kompresi dada, mengurangi kejadian hiperventilasi, mengurangi pemberhentian kompresi untuk melakukan ventilasi dan menyederhanakan pelatihan. Penelitian dengan menggunakan boneka bahwa dengan rasio kompresi ventilasi 30 : 2 penolong merasa lebih melelahkan daripada dengan menggunakan rasio 15:2. Ketika korban selama RJP telah terpasang Advanced airway , 2 orang penolong tidak lagi menggunakan siklus.

Sebagai penggantinya kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit tanpa berhenti untuk memberikan ventilasi. Penolong memberikan ventilasi 8-10 kali/menit. Kedua penolong harus bergantian dalam melakukan kompresi dan ventilasi setelah melakukan RJP selama 2 menit untuk mencegah kelelahan pada penolong yang melakukan kompresi sehingga terjadi kekacauan dalam hal kualitas dan kecepatan kompresi dada. Jika penolong dalam jumlah banyak, lakukan rotasi kompresi dada setiap 2 menit.

Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 2 Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!

Comments : Ada 0 komentar untuk Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 2

Post a Comment

 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |