Belajar Askep
.

Sunday, April 10, 2011

Browse » Home » , » Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 3

Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 3

Bagikan Keteman Lewat:




Defibrilasi

Seluruh Provider BHD harus dilatih untuk dapat memberikan tindakan defibrilasi karena fibrilasi ventrikel merupakan irama yang paling sering terjadi pada orang dewasa yang tidak sadar dan tidak trauma, untuk korban demikian angka keberhasilan akan meningkat ketika penolong melakukan defibrilasi dalam waktu 3-5 menit setelah kejadian. Defibrilasi segera merupakan terapi terpilih untuk fibrilasi ventrikel pada korban tidak sadar yang tersaksikan. Hasil dari RJP sebelum dilakukan defibrilasi adalah memperpanjang irama fibrilasi ventrikel, ketika petugas datang dalam waktu 4- 5 menit setelah mendapatkan informasi, periode singkat dari RJP yang telah dilakukan (1-3 menit) sebelum defibrilasi dapat meningkatkan keberhasilan untuk kembali kepada sirkulasi spontan dan angka keberhasilan RJP.

RJP pada situasi yang Khusus Tenggelam

Tenggelam merupakan penyebab kematian yang masih dapat dicegah. Keberhasilan menolong korban yang tenggelam tergantung dari lama dan beratnya derajat hipoksia. Penolong harus melakukan RJP,
terutama sekali bantuan pernapasan, secepat mungkin setelah korban tenggelam dikeluarkan dari air. Ketika menolong semua usia korban yang tenggelam, seorang petugas kesehatan melakukan 5 siklus (kira-kira 2 menit) RJP sebelum meninggalkan korban untuk mengaktifkan sistem gawat darurat. 

Ventilasi mulut ke mulut di dalam air mungkin dapat menolong jika dilakukan oleh penolong yang terlatih. Kompresi dada sangat sukar dilakukan di dalam air, mungkin tidak akan efektif dan dapat membahayakan keduanya. Tidak ada peristiwa yang terjadi dimana air menyebabkan sumbatan jalan napas. Manuver yang dilakukan untuk menghilangkan sumbatan jalan napas tidak direkomendasikan untuk korban tenggelam karena manuver tersebut tidak biasa dilakukan dan dapat menyebabkan trauma, muntah, dan aspirasi serta memperlambat RJP. Penolong harus mengeluarkan korban tenggelam dari dalam air secepat mungkin dan memulai resusitasi sesegera mungkin.

Hipotermia


Pada korban tidak sadar dengan hipotermia, petugas kesehatan harus menilai pernapasan untuk mengetahui ada tidaknya henti napas dan menilai denyut nadi untuk menilai ada tidaknya henti jantung atau adanya Bradikardi selama 30-45 detik karena frekuensi jantung dan pernapasan dapat sangat lamban, tergantung dari derajat hiportemia, jika korban tidak bernapas mulailah pemberian bantuan pernapasan. Jika denyut nadi korban tidak ada, segera mulailah melakukan kompresi dada. Jangan menunggu suhu tubuh menjadi hangat untuk memulai RJP. Untuk mencegah hilangnya panas, lepaskan pakaian yang basah dari tubuh korban; lindungi korban dari hembusan angin, panas, atau dingin, dan jika mungkin berikan ventilasi dengan oksigen yang hangat.

Posisi Sisi Mantap (Recovery Position)

Posisi sisi mantap dipergunakan untuk korban dewasa yang tidak sadar yang telah bemapas dengan normal dan sirkulasi yang efektif. Posisi ini dibuat untuk menjaga agar jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko sumbatan jalan napas dan aspirasi. Korban diletakkan pada posisi miring pada salah satu sisi badan dengan tangan yang dibawah berada didepan badan.

Sumbatan Jalan Napas Oleh Benda Asing Sumbatan Jalan Napas oleh Benda Asing (Tersedak)

Kematian akibat tersedak tidak biasa terjadi tetapi merupakan penyebab kematian yang dapat dicegah. Banyak laporan kasus tersedak pada orang dewasa yang disebabkan oleh makanan dan terjadi pada saat sedang makan. Kejadian tersedak pada bayi dan anak-anak juga terjadi pada saat sedang makan atau bermain.

Mengenali adanya sumbatan jalan napas akibat benda asing

Dikarenakan mengenali adanya sumbatan jalan napas merupakan kunci keberhasilan menolong korban yang tersedak. Ini sangat penting untuk dapat membedakan kegawat daruratan dari pingsan, serangan jantung, atau keadaan lain yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, sianosis, atau kehilangan kesadaran. Benda asing merupakan salah satu penyebab sumbatan komplit/total atau sumbatan sebagian/parsial pada jalan napas. Penolong harus membantu jika melihat korban yang mengalami sumbatan jalan napas akibat tersedak. Tanda korban yang tersedak antara lain kesulitan bernapas, sianosis, sulit berbicara. Korban biasanya memegang lehernya, segeralah bertanya "apakah anda tersedak" jika korban menganggukkan kepalanya berarti dia tersedak.

Membebaskan sumbatan jalan napas oleh benda asing Manuver Heimlich

Untuk mengatasi obstruksi jalan napas oleh benda asing dapat dilakukan manuver Heimlich (hentakan subdiafragma-abdomen). Suatu hentakan yang menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma sehingga memaksa udara yang ada didalam para-paru untuk keluar dengan cepat sehingga diharapkan dapat mendorong atau mengeluarkan benda asing yang menyumbat jalan napas. Setiap hentakan harus diberikan dengan tujuan menghilangkan obstruksi, mungkin dibutuhkan pengulangan hentakan 6-10 kali untuk membersihkan jalan napas.

Pertimbangan penting dalam melakukan manuver Heimlich adalah kemungkinan kerusakan pada organ-organ besar. Manuver Heimlich pada korban sadar dengan posisi berdiri atau duduk Penolong harus berdiri di belakang korban, melingkari pinggang korban dengan kedua lengan, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit diatas pusar dan dibawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan ke perut dengan hentakan yang cepat kearah atas. Setiap hentakan harus terpisah dan dengan gerakan yang jelas.

Manuver Heimlich pada korban yang tergeletak (tidak sadar)

Korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka keatas. Penolong berlutut disisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusat dan jauh dibawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan diatas tangan pertama. Penolong menekan kearah perut dengan hentakan yang cepat kearah atas. Manuver ini dapat dilakukan pada korban sadar jika penolongnya terlampau pendek untuk memeluk pinggang korban.

Manuver Heimlich pada yang dilakukan sendiri

Pengobatan diri sendiri terhadap obstruksi jalan napas : Kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut diatas pusat dan dibawah tulang sternum, genggam kepalan itu dengan kuat dan berikan tekanan ke atas kearah diafragma dengan gerakan cepat, jika tidak berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi.

Penyapuan jari

Manuver ini hanya dilakukan atau digunakan pada korban tidak sadar, dengan muka menghadap keatas buka mulut korban dengan memegang lidah dan rahang diantara ibu jari dan jari-jarinya, kemudian mengangkat rahang bawah. Tindakan ini akan menjauhkan lidah dan kerongkongan serta menjauhkan benda asing yang mungkin menyangkut ditempat tersebut. Masukkan jari telunjuk tangan lain menelusuri bagian dalam pipi, jauh kedalam kerongkongan dibagian dasar lidah, kemudian lakukan gerakan mengait untuk melepaskan benda asing serta menggerakkan benda asing tersebut ke dalam mulut sehingga memudahkan untuk diambil. Hati-hati agar tidak mendorong benda asing lebih jauh kedalam jalan napas.
Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 3 Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!

Comments : Ada 0 komentar untuk Bantuan Hidup dasar ( BHD ) Bagian 3

Post a Comment

 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |