Belajar Askep
.

Friday, May 06, 2011

Browse » Home » » A = AIRWAY MANAGEMENT (PENGELOLAAN JALAN NAFAS)

A = AIRWAY MANAGEMENT (PENGELOLAAN JALAN NAFAS)

Bagikan Keteman Lewat:




Tujuan      :  Membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara secara normal
Diagnosa  :  diagnose terhadap adanya gangguan jalan nafas dapat diketahui dengan cara
L= (Look), L= (Listen), F= (Feel), yang dilakukan dalam satu gerak.
L= melihat gerakan nafas/pengembangan dada dan adanya retraksi sela iga
L= mendengar aliran udara pernafasan
F= Merasakan adanya aliran udara pernafasan


Tindakan dilakukan
1.    Tanpa alat
a.    Membuka Jalan nafas
·      Dapat dilakukan tindakan head-tilt, chin-tilt maneuver, jaw-thrust maneuver
·      Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya dilakukan jaw-thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher
·      Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari
·      Kegagalan membuka jalan nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu adanya sumbatan jalan nafas daerah faring atau adanya henti nafas (apnea)
·      Bila hal itu terjadi dan pasien tidak sadar, lakukan peniupan udara melalui mulut. Bila dada tidak tampak mengembang, maka kemungkinan adanya sumbatan pada jalan nafas dan dilakukan  Heimlich maneuver.

b.   Membersihkan jalan nafas
Sapuan Jari (finger sweep)
Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut belakang atau hipofaring (gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya) dan hembusan nafas hilang, maka lakukan teknik “Sapuan jari”

Cara :  Miringkan kepala pasien. Buka mulut pasien dengan jaw thrust dan tekan dagu kebawah bila otot rahang lemas (ermaresi maneuver), gunakan 2 jari kita yang bersih (sebaiknya bungkus dengan sarung tangan atau kain/kasa) korek/gaet semua benda asing dalam rongga mulut.

Head tilt
Dilakukan karena jalan nafas tertutup lidah pasien.

Cara
Letakkan telapan di dahi pasien dan tekan kebawah, kepala tengadah sehingga penyangga tidak tegang dan lidah terangkat kedepan


Perhatian
Cara ini tak dilakukan pada dugaan patah tulang leher

Chin Lift
Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah kedepan

Cara
Gunakan jari tengan dan jari telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien, kemudian angkat dan dorong tulang kedepan

Jaw thrust
Walaupun head tilt dan chin lift sudah dilakukan seringkali jalan nafas belum terbuka sempurna, maka teknik jaw thrust ini dilakukan

Cara
Dorong sudut rahang kiri dan kanan kearah depan sehingga barisan gigi bawah berada didepan barisan gigi atas, atau gunakan ibu jari kedalam mulut dan bersama dengan jari-jari lain tarik dagu kedepan.

Catatan
Pada dugaan tulang leher patah yang dilakukan adalah modifikasi jaw thrust dan fixasi leher (agar tak ada gerak berlebih)

Finger sweep (sapuan tangan)
Miringkan kepala, gunakan 2 jari sapu/keluarkan semua benda asing di dalam rongga mulut

c.    Mengatasi sumbatan parsial nafas
1.    Teknik manual thrust
a)    Abdominal thrust (untuk dewasa)
Untuk penderita sadar dengan sumbatan jalan nafas parsial boleh dilakukan tindakan “Abdominal thrust”
Bantu/tahan penderita tahap berdiri atau condong kedepan dengan merangkul dari belakang.
·      Lalukan hentakan mendadak dan keras pada titik silang garis antar belikat dan garis punggung tulang belakang
·      Rangkul korban dari belakang dengan kedua lengan dengan mempergunakan kepalan kedua tangan, hentakan mendadak pada uluhati (abdominal thrust). Ulangi hingga jalan nafas bebas atau hentikan bila korban jauh tidak sadar ulangi tindakan tersebut pada penderita terlentang.
·      Segera panggil bantuan.

b)   Chest thrust (untuk anak, orang gemuk & wanita hamil)
Penderita sadar:
·      Penderita anak lebih dari satu tahun:
Lakukan “chest thrust” 5 kali (tekan ulang dada dengan jari kedua dan ketiga kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antar puting susu).
Ulangi tindakan tersebut, hingga sumbatan tergeser atau korban jatuh tidak sadar.

Penderita tidak sadar:
·      Tidurkan terlentang
·      Lakukan chest thrust
·      Tarik lidah dan lihat adakah benda asing
·      Berikan pernafasan buatan
·      Bila jalan nafas tersumbat di bagian bawah, lanjutkan dengan krikotirotomi jarum.

c)    Back blow (untuk bayi)
Penderita Sadar :
·      Bila penderita dapat batuk keras, observasi ketat
·      Bila nafas tidak efektif/berhenti
Back blows 5 kali (hentakan keras mendadak pada punggung korban di titik silang garis antar belikat dengan tulang punggung/verterbral)

Penderita tidak sadar:
·      Tidurkan penderita terlentang
·      Lakukan back blow dan chest thrust
·      Tarik lidah dan dorong rahang bawah untuk melihat benda asing
1.    Bila terlihat ambil dengan jari-jari
2.    Bila tak terlihat jangan coba-coba digaet dengan jari
·      Usahakan memberikan nafas (meniupkan udara)
·      Bila jalan nafas tetap tersumbat, ulangi langkah tersebut di atas
·      Segera panggil bantuan setelah pertolongan pertama dilakukan 1 menit

2.    Dengan Bantuan Alat
a.    Teknik membuka jalan nafas
1.    Pemasangan pipa (tube)
·      Cara ini dilakukan bila pengelolaan tanpa alat tidak berhasil, maka dipasang jalan nafas buatan (pipa orofaring, pipa nasofaring)
·      Bila dengan pemasangan jalan nafas tersebut pernafasan belum juga baik, dilakukan pemasangan pipa endotrakeal (intubasi)
·      Pemasangan pipa endotrakeal akan menjamin jalan nafas tetap terbuka, menghindari aspirasi dan memudahkan tindakan bantuan pernafasan
·      Bila terdapat sumbatan jalan nafas karena benda cair, maka dilakukan pengisapan (suctioning)
·      Bila pada kasus pemasangan pipa endotrakeal tidak mungkin dilakukan, dipilih krikotirotomi.

2.    Pengisapkan benda asing cair (Suctioning)
Bila terdapat sumbatan karena benda asing cair, maka sebaiknya pengisapan digunakan dengan alat bantu pengisap (terdapat pengisap manuap portable dan pegisap listrik dengan sumber portable/sumber listrik yang ada).

Cara :  Pengisap dihubungkan dengan pipa kecil (dapat digunakan NGT atau pipa lainnya) yang bersih, gunakan sarung tangan bila memungkinkan, buka mulut pasien kalau perlu tengadahkan kepala agar jalan nafas terbuka, lakukan pengisapan (tidak boleh lebih dari 15 detik), kemudian cuci pipa pengisap dengan memasukkannya pada air bersih/cairan infuse untuk membilas, ulangi lagi bila diperlukan

3.    Membersihkan benda asing padat dalam jalan nafas
Bila pasien tidak sadar dan terdapat sumbatan pada jalan nafas daerah hipofaring yang tidak mungkin dilakukan dengan pembersihan menggunakan sapuan jari, maka diperlukan alat bantu berupa laringoskopi, alat pengisap (suction) dan alat penjepit (forcep).

Cara :  buka jalan nafas agar terletak lurus/lebar dengan memperbaiki posisi kepala, gunakan laringoskop dengan tangan kanan. Masukkan bladenya pada sudut mulut kiri dan menyusur ke tepi lidah sampai pangkal lidah, putar ujung blade perlahan ketengah dan angkat tangkai laringoskop keatas depan sehingga terlihat hipofaring dan rima glottis, gunakan pengisap untuk benda cair dan liur kemudian gunakan forcep bila terdapat benda padat.

4.    Mempertahankan jalan nafas dengan pipa orofaring
Untuk mempertahankan jalan nafas agar tetap terbuka, digunakan pipa orofaring yang juga akan menahan agar pangkal lidah tidak jatuh kebelakang, terutama pada pasien-pasien yang tidak sadar.

Cara :  masukkan pipa orofaring dengan lengkungan menghadap langit-langit dalam rongga mulut kira-kira ½ bagian atau sampai menyentuh langit-langit kemudian diputar 180o sehingga lengkungan menghadap kedepan dan dorong kebelakang sampai seluruh alat tersebut masuk dalam rongga mulut atau ujung pipa sampai orofaring.
Catatan :  pasien dengan masih adanya reflex glosofarigeal atau reflex laring, penggunaan pipa ini akan merangsang terjadinya muntah yang dapat menyebabkan aspirasi dan kejang laring segera cabut pipa.

b.   Intubasi Endotrakeal
Peralatan:
1.        Pipa oro/nasofaring
2.        Suction/alat penghisap
3.        Kanula dan masker oksigen
4.        Ambu bag
5.        Pipa endotrakheal dan stylet
6.        Pelumas (jelly)
7.        Forcep magill
8.        Laringoscop (handle dan blade)
9.        Obat-obatan sedatif i.v
10.    Sarung tangan
11.    Plester dan gunting
12.    Bantal kecil tebal 10cm (bila tersedia)

a.    Intubasi orotrakheal
Tindakan:
1.      Sebelum intubasi berikan oksigen, sebaliknya gunakan bantal dan pastikan jalan nafras terbuka (hati-hati pada dugaan cedera leher)
2.      Siapkan endotrakheal tuber (ETT), periksa balon (cuff), siapkan stylet, beri pelumas (jelly)
3.      Siapkan laringoskopi (pasang blade pada handle), lampu harus menyala
4.      Tidurkan/tenangkan pasien dengan pemberian obat seditif i.v (valium, dormioum dosis 0,05-0,1 mgr/kg BB. Bila diperlukan dapat diberikan obat pelemas oto (succinil clolin 1-2 mgr/kg BB)
5.      Berikan hiperventilasi, tunggu sampai fasikulasi otot menghilang
6.      Pegang laringoskop dengan tangan kiri, masukkan ujung blade ke sisi kanan mulut pasien, geser lidah pasien ke kiri
7.      Tekan tulang rawan krikoid (untuk mencegah aspirasi)
8.      Lakukan traksi sesuai sumbu panjang laringoskop (hati-hati cedera gigi, gusi, bibir)
9.      Lihat adanya pita suara terbuka, masukkan ETT diantara dua pita suara. Bila perlu isap lender/cairan lebih dahulu
10.  Keluarkan stylet dan laringoskop secara hati-hati
11.  Kembangkan balon (cuff) ETT
12.  Pasang pipa orofaring (mayor/guedel tube)

13.  Periksa posisi ETT apakah masuk dengan benar (aukultasi suara pernafasan atau udara yang ditiupkan). Hubungkan dengan pipa oksigen
14.  Amankan ETT dengan plester

b.   Intubasi Nasotrakheal
Dipilih terutama bila intubasi orotrakheal tidak dimungkinkan, misalnya pada penderita cedera leher (tetapi tergantung kemampuan penolong)
·      Spray mukosa lubang dan rongga hidung dengan vasokonstriksi dan xylocaine
·      Posisi kepala netral
·      Masukan lubang tube sebagai berikut
·      Jelaskan pada penderita (bila pasien sadar)
·      Manipulasi gerak leher dan kepala
·      Dorong tube hati-hati masuk rongga hidung perhatikan lengkungan kepala sampai terdengar suara nafas lewat lubang tube, mulut dan lubang hidung yang lain ditutup
·      Dorong ke mulut hingga suara nafas terdengar maksimal, ini sebagai tanda ujung tube sudah didepan trachea
·      Pada saat pasien menarik nafas dalam, pipa didorong disertai penekanan krikoid
·      Begitu pipa masuk segera hubungkan dengan 100% O2, kembangkan balon (cuff). Auskultasi suara pernafasan kiri dan kanan/suara udara yang ditiupkan
·      Fixasi pipa dengan plester.

Penyebab : gangguan/tertutupnya jalan nafas
1.    Posisi tertekuk (fleksi)

2.    Pangkal lidah yang jatuh kebelakang (karena otot lidah yang lemas pada pasien-pasien tidak sadar)
3.    Ada benda asing (gumpalan darah, muntahan, gigi yang patah)

Menentukan : gangguan/tertutupnya jalan nafas
Look        :  - t’a sumbatan/sumbatan ringan : gerakan nafas normal
(lihat)          - Sumbatan partial berat : tampak gerakan nafas terganggu
-  Sumbatan total : tak tampak ada gerakan

Listen       :  - t’a sumbatan: suara nafas jernih
(dengar)      - Sumbatan ringan: terdapat suara tambahan dengan nada rendah
-  Sumbatan berat: terdapat suara tambahan dengan nada tinggi
-  Sumbatan total : tak terdengar suara

Feel          :  - t’a sumbatan/sumbatan ringan : aliran udara normal
(Rasakan-   - Sumbatan ringan : aliran udara sedikit
Aliran)        - Sumbatan total : tak terasa adanya aliran udara

c.    Krikotirotomi
Krikotirotomi dengan jarum
a.    Alat:
·      Obat desinfektan
·      Semprit suntik
·      Obat anestesi local
·      Jarum dengan kateter (no. 12-14)
·      Sarung tangan sebaiknya dipakai

Caranya:
·      Siapkan alat (jarum dengan kateter no. 12-14) sumber O2
·      Pasien letakkan dalam posisi extensi, deinfektan daerah leher depan, gunakan sarung tangan steril
·      Berikan anestesi local pada membrane krikotiroid
·      Masukkan/tembus membrane tersebut dengan jarum suntik kea rah bawah caudal sudut 45o, dorong lebih kurang 1-2 cm, hisap semprit tersebut terisi udara dan trachea (berarti sudah sampai trachea)
·      Lepaskan semprit, dorong kateter masuk trachea, cabut jarumnya
·      Pertahankan kateter dan sambungkan dengan pipa O2

Krikotiroid dengan pisau
b.    Alat:
·      Sarung tangan, pisau/skalel no 1-2
·      Obat antiseptic/deinfektan
·      Obat anestesi local
·      Kasa
·      Kanula trakheostomi no 5-7
·      Baju steril, masker
·      Gunting

Caranya:
1.    Jelaskan pada penderita bila pasien masih sadar (inform consent)
2.    Pilih ukuran kanula trakheostomi yang sesuai
3.    Atur posisi pasien
a.    Netral, pasang penyangga leher (collar splint) pada pasien dengan dugaan cedera leher
b.    Extensi pada kasus tanpa cedera leher
4.    Pakai baju, masker, kaca mata, sarung tuhan
5.    Deinfeksi leher, tutup leher dengan kain steril berlubang
6.    Berikan anestesi local
7.    Tentukan letak membrane krikoid insisi pada membrane 2-3 cm menembus sampai rongga trachea dengan sudut 30-40o ke bawah untuk menghindari cedera pita suara
Catatan:
Boleh pakai jarum besar dahulu sebelum insisi menembus membrane kirkoid sebagai pemandu insisi dan agar cepat dapat membantu diberikan oksigen
8.    Pelebar dengan pangkal scaipel putar tegak lurus atau pergunakan klem atau speculum (dilatators)
9.    Pasang kanula trakheostomi/kembangkan balon (cuff)
10.    Berikan ventilasi dengan 100% O2
11.    Cek segera patensi jalan nafas
12.    Pasang pita pengikat kanula
13.    Cek foto X-Ray (bila fasilitas memungkinkan)
Tkhns:
Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: A = AIRWAY MANAGEMENT (PENGELOLAAN JALAN NAFAS) Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!

Comments : Ada 0 komentar untuk A = AIRWAY MANAGEMENT (PENGELOLAAN JALAN NAFAS)

Post a Comment

 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |