Belajar Askep
.

Saturday, May 21, 2011

Browse » Home » » Hubungan Perubahan Berat Badan Dengan Pemakaian Alat Kontrasepasi Pil

Hubungan Perubahan Berat Badan Dengan Pemakaian Alat Kontrasepasi Pil

Bagikan Keteman Lewat:



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah.
Masalah utama yang dihadapi di Indonesia adalah dibidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat.

Saat ini penduduk Indonesia berjumlah kurang lebih 228 juta jiwa, dengan pertumbuhan penduduk 1,64 % dan Total Fertility Rate (TFR) 2,6. Dari segi kuantitas jumlah penduduk Indonesia cukup besar tetapi dari sisi kualitas melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kondisi Indonesia sangat memprihatinkan karena dari 117 negara, Indonesia diposisi 108. Tingginya laju pertumbuhan yang tidak diiringi peningkatan kualitas penduduk ini terus dilakukan upaya penanganan yaitu dengan program keluarga berencana. (Handayani, 2010) 

Jumlah penduduk yang besar secara umum berdampak terhadap permasalahan-permasalahan sosial lainnya, antara lain: ketersediaan pangan yang semakin terbatas, pengangguran, kemiskinan, pembangunan perumahan, meningkatnya tingkat kriminalitas, masalah kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Untuk itu dibutuhkan suatu gerakan pengendalian dan peningkatan kesejahtaraan penduduk melalui berbagai program- program pemerintah yang salah satunya adalah gerakan keluarga berencana nasional (KB). (BKKBN, 2008)
 
WHO memiliki data yang menunjukkan, sembilan dari 10 wanita yang menggunakan kontrasepsi memilih metode modern berupa sterilisasi wanita (24%), spiral (14%), dan pil (7%). Pil merupakan metode jangka pendek, cenderung lebih populer di negara maju. Sterilisasi dan spiral merupakan metode jangka panjang, banyak dipilih wanita di negara berkembang dengan persentase 23% dan 15%.
Di Afrika tercatat, sekitar 82% penduduknya tak berkontrasepsi. Di Asia Tenggara, Selatan, dan Barat, hanya 43% yang sadar kontrasepsi. Negera maju di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan, hanya seperlima warganya yang menolak kontrasepsi.

Berdasarkan data dari SDKI 2002–2003, angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) mengalami peningkatan dari 57,4 % pada tahun 1997 menjadi 60,3 % pada tahun 2003. Pada 2015 jumlah penduduk Indonesia hanya mencapai 255,5 juta jiwa. Namun, kalau terjadi penurunan angka satu persen saja, jumlah penduduk mencapai 264,4 juta jiwa atau lebih. Sedangkan kalau pelayanan KB bisa ditingkatkan dengan kenaikan CPR 1%, penduduk negeri ini sekitar 237,8 juta jiwa. 

Menurut SDKI 2002-2003 Pada tahun 2003, kontrasepsi yang banyak digunakan adalah metode suntikan (49,1%), pil (23,3%), IUD/spiral (10,9%), implant (7,6%), MOW (6,5%), kondom (1,6%), dan MOP (0,7%).
Pil merupakan alat KB yang paling populer. Menurut data sementara Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) hingga Februari 2004, pil KB menduduki peringkat pertama, bersama-sama dengan KB suntik, dengan nilai rata-rata 25% dari total 12.591 peserta KB baru. Sedangkan menurut data nasional di Indonesia hingga Februari 2003, pil KB menduduki tempat kedua pilihan akseptor sebanyak 34,57%  dari 652.562 peserta KB. (Koran Tempo, 2008)

Program KB nasional merupakan program pembangunan sosial dasar yang sangat penting artinya b agi pembangunan nasional dan kemajuan bangsa. Dalam Undang-Undang No.10 Tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, disebutkan bahwa KB adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Hasil program KB tidak seketika dapat dinikmati, tetapi sangat menentukan bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh di masa depan. (BKKBN Sumut, 2008)
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara ini kegiatan Keluarga Berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Tujuan program KB sesungguhnya bukan untuk mengurangi jumlah penduduk. Tujuan yang benar dari program KB adalah mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas melalui penggunaan alat kontrasepsi sehingga bermanfaat bagi kesehatan ibu dan anak (BKKBN, 2005)

Berdasarkan pendapat di atas, diharapkan setiap keluarga memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan berkenaan dengan hal tersebut. Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi “Keluarga berkualitas 2015” untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Prawirohardjo, 2003)
Ada beberapa metode atau alat KB yang bisa digunakan, bagi wanita antara lain pil KB, suntik KB, susuk atau implant, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan Medis Operasi Wanita (MOW) biasa disebut tubektomi sedangkan bagi pria biasanya dengan cara pantang berkala, senggama terputus, kondom dan Medis Operasi Pria (MOP) atau vasektomi. (Manuaba, 2009)

Hasil penilaian dan evaluasi program selama tahun 2009, Sumsel termasuk daerah dengan prestasi yang baik. Dalam kategori penilaian, program KB di Sumsel mendapat predikat baik dan terbaik. Pasalnya, angka pencapaian sudah melebihi target sebesar 112 % dari angka yang ditetapkan pusat. Dipaparkan, di tahun 2009 BKKBN Sumsel mentargetkan jumlah peserta KB sebanyak 344 ribu peserta. Target tersebut telah terlampaui dengan jumlah peserta KB telah mencapai 385 ribu peserta KB patuh. Salah satu faktor pendukung keberhasilan adalah program kesehatan gratis oleh pemerintah propinsi. 

Berdasarkan data yang dihimpun dari BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, jumlah akseptor aktif pada tahun 2009 sebesar 1.161.157 orang, dengan perincian akseptor  KB IUD sebesar 45.157 orang (4%), akseptor KB Tubektomi sebesar 39.224 orang (3,3%), akseptor KB Implan sebesar 196.382 orang (17%), akseptor KB Suntik sebesar 484.876 orang (41,7%), akseptor KB Pil akseptor sebesar 340.083 orang (29,3%)  KB Vasektomi sebesar 4.381 orang (0,3%) dan akseptor KB Kondom sebesar 51.054 orang (4,4%). 
Pada tahun 2009, pencapaian peserta KB aktif di Palembang mencapai sebesar 189.236 orang atau 72.65 % dari 245.715 PUS. Akseptor KB Wanita berjumlah 179.561 orang, dengan perincian akseptor KB IUD sebesar 14.562 orang (7,7 %), akseptor KB Tubektomi sebesar 13.283 orang (7 %), akseptor KB Implan sebesar 23.919 orang (12,6 %), akseptor KB Suntik sebesar 77.131 orang (40,76 %), akseptor KB Pil  sebesar 50.666 orang ( 26,78 %), akseptor KB Pria sebesar 9.675 orang, dengan perincian akseptor KB Vasektomi sebesar 477 orang ( 0,26 %) dan akseptor KB Kondom sebesar 9.198 orang (4,9 %). (BKKBN, 2009)

Sedangkan pada tahun 2010, pencapaian KB aktif di Palembang sebesar orang 206.856 dari 264.008 orang PUS. Akseptor KB Wanita berjumlah 192.726 orang, dengan perincian akseptor KB IUD sebesar 15.812 orang (7,7%) akseptor KB Tubektomi sebesar 13.802 orang (6,7%), akseptor KB Implan sebesar 25.373 orang  (12,2 %), Akseptor KB Suntik sebesar 80.213 orang  (38,8 %) dan Akseptor KB Pil sebesar 57.526 orang (27,8%). Akseptor KB pria  berjumlah 67.361 orang, dengan perincian akseptor KB Vasektomi sebesar 767 orang  (0,3%), akseptor KB Kondom sebesar 13.363 orang (6,5%). (BKKBN, 2010)

Pil adalah metode kontrasepsi yang mengandung steroid yang digunakan per oral. Ada dua macam jenis pil yaitu pil kombinasi dan pil progestin. Pil kombinasi adalah pil yang berisi hormone estrogen dan progesteron, sedangkan pil progestin adalah kontrasepsi yang mengandung hormon steroid (progesteron sintetis saja) yang digunakan per oral. (Hidayati, 2009)

Alat kontrasepsi hormonal mempunyai sifat kimiawi sehingga memiliki efek samping yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan alat kontrasepsi non hormonal seperti alat kontrasepsi mantap. Efek samping dari kontrasepsi hormonal salah satunya yaitu peningkatan berat badan.
Peningkatan berat badan disebabkan oleh hormon progesteron yang merangsang hipotalamus lateral menyebabkan perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak dalam tubuh akan menjadi banyak dan terjadilah peningkatan berat badan. (Zainal, 2002)

Peningkatan berat badan yaitu meningkatkan berat badan ibu selama menggunakan alat kontrasepsi hormonal dimana peningkatan yang sering terjadi antara 1-2 kg. Apabila peningkatan berat badan akseptor melebihi dari berat badan normal selama menggunakan alat kontrasepsi hormonal, maka diperlukan penelitian lebih lanjut. Sehingga masalah yang sering timbul pada ibu-ibu dengan peningkatan berat badan ini yaitu masalah psikologi karena ibu-ibu cenderung rendah diri dan kurang percaya diri terhadap lingkungan (body image). Masalah yang lain adalah masalah kesehatan dimana berat badan yang melebihi dari normal dapat menimbulkan penyakit seperti hipertensi, jantung, diabetes mellitus. (Zainal, 2002)

Berdasarkan data yang di peroleh dari Puskesmas kenten Palembang pada bulan Januari sampai April  tahun 2011  jumlah akseptor KB sebesar 390 orang, dengan perincian akseptor KB Pil sebesar 186 orang (47,6 %), akseptor KB Suntik sebesar 170 orang (43,5 %), akseptor KB IUD sebesar 5 orang (1,2 %), akseptor KB Implan sebesar 6 orang (1,5 %), akseptor KB Kondom sebesar 22 orang (6 %), akseptor KB MOW sebesar 1 orang (0,2 %). (Laporan Kegiatan Keluarga Berencana Puskesmas Kenten Palembang, 2011)

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti dengan judul “Hubungan Perubahan Berat Badan Dengan Pemakaian Alat Kontrasepasi Pil di Puskesmas Kenten Palembang Tahun 2011

1.2.       Rumusan Masalah
Adakah hubungan perubahan berat badan ibu dengan pemakaian alat kontrasepsi pil di Puskesmas Kenten Palembang tahun 2011?

1.3.       Tujuan Penelitian
Ingin mengetahui hubungan perubahan berat badan ibu dengan pemakaian alat kontrasepsi pil secara simultan di Puskesmas Kenten Palembang tahun  2011.

1.4.       Manfaat Penelitian
1.4.1.      Manfaat Teoritis
Penelitian diharapkan akan memberikan masukkan tentang teori-teori yang berhubungan dengan perubahan berat badan ibu dengan pemakaian alat kontrasepsi pil di Puskesmas Kenten Palembang.

1.4.2.      Manfaat Praktis 
                   Dengan adanya penelitian tentang hubungan perubahan berat badan ibu dengan pemakaian alat kontrasepsi pil, maka peneliti mengharapkan hal ini dapat memberikan masukkan kepada petugas kesehatan khususnya bidan dalam memberikan penyuluhan dan pelayanan pada ibu tentang pemakaian alat kontrasepsi, bagaimana cara kerja dan bagaimana dampak kemungkinan yang akan terjadi.

Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: Hubungan Perubahan Berat Badan Dengan Pemakaian Alat Kontrasepasi Pil Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!
 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |