Belajar Askep
.

Friday, May 06, 2011

Browse » Home » » Prinsip Dasar PPGD

Prinsip Dasar PPGD

Bagikan Keteman Lewat:



Pendahuluan
PPGD adalah kepanjangan dari “Pertolongan Penderita Gawat Darurat Yaitu suatu usaha pertolongan segera untuk menyelamatkan penderita karena adanya ancaman kematian.
Istilah ini berasal dari terjemahan kata “Critical Ill Patient” yaitu penderita yang dalam keadaan kritis dan akan meninggal segera bila tidak dilakukan pertolongan segera. Selain itu terdapat pula istilah “Emergency Patient” yaitu pasien yang perlu pertolongan segera atau terjemahan menjadi pasien-pasien “dalam keadaan darurat”.


Penderita Gawat Darurat
Secara umum istilah penderita Gawat Darurat dapat digunakan untuk :
a.    Immediately life-threatening case atau kasus-kasus yang perlu pertolongan segera karena adanya ancaman kematian, misalnya:
·      Obstruksi total jalan nafas
·      Asphyxia
·      Keracunan CO
·      Tension pneumotoraks
·      Henti jantung (cardiac arrest)
·      Tamponade jantung
Penangannya diajukan pada gangguan jalan nafas (A=airway managemen). Gangguan pernafasan (B=Breathing) dan Pengambilan Sirkulasi darah (C=Circulation)

b.    Potentially life threatening case, istilah ini digunakan untuk kasus-kasus memerlukan pertolongan segera karena adanya kecenderungan (potensial) akan terjadinya ancaman kematian, contoh:
·      Ruptura tracheosbronchial
·      Kontusio jantung/paru
·      Pendarahan massif apapun sebabnya
·      Koma
Dan kasus-kasus tersebut maka penanganan harus ditunjukkan kepada gangguan pernafasan (B=Breathing), gangguan sirkulasi (C=Circulation) dan gangguan pada susunan syaraf (D=Disability).

Selain kedua hal tersebut terdapat pula kelompok kasus yang perlu pertolongan segera karena adanya ancaman kecacatan (limb treathening) contoh :


·      Fraktur tulang disertai cedera pada persyarafan
·      Crush injury pada ekstremitas atas/bawah
·      Sindroma kompartemen
·      Dll

Kasus-kasus ini adalah kasus yang mempunyai kecenderungan (potensial) dapat menyebabkan ancaman kematian.

Filosofi
Pengetahuan untuk pertolongan penderita gawat darurat ini adalah pengetahuan yang universal. Artinya pengetahuan ini sama dimanapun kita berada.
Kasus-kasus gawat darurat ini penanganannya harus dapat dilakukan oleh siapa saja. Pendekatannya adalah bukan merupakan penjumlahan kegawat daruratan dari setiap bidang bedah, ditambah gawat darurat kebidanan ditambah gawat darurat penyakit dalam dan seterusnya.
Tetapi pendekatannya adalah berdasarkan permasalahannya misalnya untuk pasien dengan perdarahan massif pada wanita hamil atau pada kasus trauma atau pada perdarahan traktus digestivus atau sebab lain. Maka penanganannya harus mempunyai prinsip yang sama yaitu : mengatasi syok (mengganti volume) dengan segera dan menghentikan perdarahan untuk penggantian volume harus dilakukan dengan cara yang sama oleh orang yang pertama kali mengetahui keadaan ini misalnya: pemasangan 2 jalur infusl dengan jarum besar pemberian cairan kristaloid minimal sesuai dengan perkiraan kehilangan volume dan dinilai respons dari penggantian volume tersebut. Sedangkan untuk penghentian perdarahan tergantung dari kasusnya apakah perlu tindak pembedahan atau dengan obat-obatan.

Prinsip PPGD
Dari adanya kebutuhan pertolongan segera untuk menghindarkan dari ancaman kematian maka:
1.    PPGD adalah penanganan yang harus “cepat dan tepat
2.    PPGD adalah pertolongan harus dilakukan segera oleh “setiap orang ang mengetahui/menemukan” pasien tersebut (orang awam, perawat/paramedic, dokter) karena penderita gawat darurat dapat ditemukan di dalam rumah sakit (di IRD, ICU, OK, uangan) atau diluar rumah sakit (di rumah, di jalan dll). Kejadian tersebut dapat terjadi setiap saat dan menimpa siapa saja.
3.    PPGD adalah pertolongan yang meliputi upaya-upaya / tindakan.
a.    Non medis: mengetahui cara minta tolong dengan segera, mengetahui cara membawa/mengirim pasien ke rumah sakit. Menyiapkan alat-alat untuk pertolongan yang diperlukan dll.
b.    Teknis medis: kemampuan petugas medis baik berupa pengetahuan dan keterampilan medis yang baik. Pengetahuan tersebut meliputi pemberian bantuan hidup dasar (Basic life support) dan bantuan hidup lanjut (advanced life support)
Untuk menjamin kecepatan usaha pertolongan diperlukan penanganan dalam satu sistim terpadu atau disebut SPGDT (Sistim Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu).

Lingkup PPGD
1.    Mengetahui keadaan penderita gawat darurat harus dilakukan dengan segera tanpa dukungan alat bantu diagnostic pada tahap awal pemeriksaan (ada yang menggunakan istilah “primary survey”) kemudian harus segera dilakukan tindakan awal untuk mengatasi permasalahan yang mengancam jiwa.
Pemeriksaan keadaan penderita tidak boleh hanya dilakukan berdasarkan pemeriksaan awal saja tapi harus dilakukan penilaian ulang, selain untuk mengetahui respons dari tindakan awal yang kita lakukan juga untuk mengetahui tidak ada hal-hal lain yang terlewat pada pemeriksaan kita (dapat juga disebut sebagai “secondary survey”) untuk itu mungkin diperlukan alat-alat penunjang diagnostic.
2.    Dalam penggunaannya dilakukan berdasarkan kegawatan yang mengancam jiwa, untuk memudahkan mengingat tindakan yang harus dilakukan digunakan pertahapan A-B-C-D-E yaitu:

A = (Airway Management)         : Pengelolaan gangguaan jalan nafas
B = (Breathing Management)     : Pengelolaan fungsi pernafasan (Ventilation)
C = (Circulation Management)   : Pengelolaan gangguan sirkulasi

Ketiga hal tersebut diatas disebut sebagai tindakan/bantuan hidup dasar (Basic life support). Hal ini harus dilakukan untuk semua jenis kasus.
Pada keadaan-keadaan tertentu pasien/penderita yang sudah mendapat pertolongan A-B-C masih memerlukan pertolongan lebih  lanjut, tergantung kasusnya, maka pertolongan tersebut disebut sebagai bantuan lebih lanjut (Advanced life support) yang meliputi:

D = (Drug Management)            =   Penggunaan obat-obatan untuk resusitasi dan bantuan sirkulasi
D = (Defibrilator)                        =   Penggunaan defiblilator untuk kasus-kasus fibrilasi jantung
D = (Disability)                           =   Bila tak terdapat kelainan pada sistim respirasi dan sirkulasi maka pemeriksaan sistim neurologis harus dilakukan karena gangguan pada sistim ini merupakan kasus yang “potential life treathening”
D = (Differential diagnosis)        =   Bila sudah dilakukan penanganan A-B-C masih diperlukan tindakan untuk mengetahui penyebab kelainan pada A-B-C tersebut yaitu dengan melakukan diagnose banding misalnya untuk henti jantung apakah disebabkan oleh : Tamponade jantung, hipovolemia, hipoksia, hiperkalemia, overdosis obat dll. Untuk mengetahui apakah diperlukan tindakan-tindakan yang lebih spesifik

Tahap selanjutnya tergantung kasus dapat dilakukan:
E = (Elektrokardiografi)         =      Yaitu melakukan monitoring tentang adanya gangguan irama jantung. Untuk itu harus diketahui adanya gangguan irama jantung yang dapat merupakan ancaman kematian (aritmia dll)
E = (Exposure)                       =      Pada kasus trauma dikenal pentahapan untuk melakukan pemeriksan secara menyeluruh setelah penilaian dan penanganan A-B-C-D dilakukan. Juga harus dilakukan penanganan untuk menghindari pengaruh luar (suhu lingkungan disekitar dll)

3.    Secara umum pada kasus henti nafas dan henti jantung diperlukan tindakan yang disebut “Resusitasi Jantung Paru” (Cardiopulmonary – Resusitation/CPR).
Tindakan ini harus dilakukan segera sebelum terjadinya kerusakan jaringan otak yang reversibel.
Pada kasus-kasus tanpa henti nafas & henti jantung maka upaya penanganan harus dilakukan sebagai upaya “pencegahan” agar tidak terjadi henti nafas atau henti jantung.
Misalnya:
·      Untuk pasien-pasien dengan koma yang dalam apapun sebabnya, maka pangkal lidah cenderung jatuh kebelakang yang akan menutup jalan nafas dan sering disertai muntah untuk menjamin jalan nafas tetap terbuka dan tidak terjadi aspirasi maka harus dilakukan pemasangan “tube” atau pipa jalan nafas (misalnya ETT = endotracheal tube)
·    Untuk pasien-pasien dengan luka bakar gr II – III pada muka dan leher serta adanya gas-gas yang terisap (inhalasi) walaupun pada awalnya pasien masih sadar. Tetapi adanya ancaman akan terjadi edema pada jalan nafas yang akan menyebabkan henti nafas maka tindakan yang harus segera dilakukan adalah segera persiapan untuk pemasangan ETT.

Penutup
Dengan adanya persamaan persepsi tentang istilah yang disebut keadaan Gawat Darurat juga hal-hal berkaitan dengan filosofi dan prinsip-prinsip penanganannya. Maka pengetahuan tentang PPGD bukan lagi penanganan yang terkotak-kotak tepi merupakan penanganan yang terpadu yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Untuk itu diperlukan kontribusi dan setiap cabang ilmu kedokteran agar pengetahuan PPGD yang pada umumnya ditujukan untuk dokter umum dan perawat dapat difahami dan dalam penanganannya mempunyai pola piker dan pola tindak yang sama.
Tkhns:
Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: Prinsip Dasar PPGD Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!

Comments : Ada 0 komentar untuk Prinsip Dasar PPGD

Post a Comment

 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |