Belajar Askep
.

Sunday, August 21, 2011

Browse » Home » » Pemasangan Infus

Pemasangan Infus

Bagikan Keteman Lewat:



Pemasangan Infus

Share  Mungkin Pemasangan infus menjadi hal yang diluar kepala buat semua perawat, tetapi ketika kita tes wawancara untuk ujian pegawai terkadang melupakan hal yang gampang seperti ini. Seperti yang saya alami saat menghadapi tes ujian calon pegawai honor kemarin. Karena itu saya buat rangkuman ini, buat saya belajar dan buata anda semua yang membutuhkan.
Pengertian
Terapi intravena memberikan cairan tambahan yang mengandung komponen tertentu yang diperlukan tubuh secara terus menerus selama periode tertentu

Tujuan
Adapun tujuan prosedur ini adalah untuk :
  1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh, elektrolit, vitamin, protein, kalori dan nitrogen pada klien yang tidak mampu mempertahankan masukan yang adekuat melalui mulut
  2. Memulihkan keseimbangan asam-basa.
  3. Memulihkan volume darah.
  4. Menyediakan saluran terbuka untuk pemberian obat-obatan.
Jenis-jenis Cairan Intravena
  1. Cairan bisa bersifat isotonis (contohnya ; NaCl 0,9 %, Dekstrosa 5 % dalam air, Ringer laktat / RL, dll)
  2. Cairan bisa bersifat hipotonis (contohnya ; NaCl 5 %)
  3. Cairan bisa bersifat hipertonis (contohnya ; Dekstrosa 10 % dalam NaCl, Dektrosa 10 % dalam air, Dektrosa 20 % dalam air)
A.  PERALATAN
  1. Alas plastik dan handuk kecil
  2. Manset tangan; bisa juga digunakan manset sfigmomanometer
  3. Kapas alkohol
  4. Betadine (1-2 % dalam air, 70 % alkohol)
  5. Kain kasa steril
  6. Plester dan stiker kosong untuk menulis tanggal pemasangan infus
  7. Set infus
  8. Jarum infus (abbocath, wing needle/butterfly)
  9. Cairan infus
  10. Sarung tangan steril (jika memasang infus pada klien yang mengalami penyakit menular, seperti ; hepatitis B, HIV-B, AIDS, dll)
B.  PROSEDUR
  1. Mencuci tangan
  2. Menjelaskan prosedur dan tujuannya (pada klien dan keluarga)
  3. Memberikan posisi semi fowler atau terlentang
  4. Menggulung lengan baju klien
  5. Meletakkan manset 5 cm di atas sikuMenghubungkan cairan infus dengan set infus dan gantungkan (periksa label infus sesuai dengan program terapi cairan yang akan diberikan)
  6. Mengalirkan cairan dengan selang menghadap ke atas sehingga udara didalamnya keluar
  7. Mengencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan kesterilan sampai pemasangan pada tangan disiapkan
  8. Mengencangkan manset atau jika menggunakan sfigmomanometer, tekanan ditempatkan dibawah tekanan sistolik
  9. Menganjurkan klien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali, palpasi dan pastikan vena yang akan ditusuk. (kriteria vena / pembuluh darahnya lihat tabel. 1)
  10. Membersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu diulangi dengan menggunakan kasa betadine dan arahnya melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan.
  11. Menggunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm diatas tusukan.\
  12. Memegang jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk, lalu tusuk perlahan dan pasti.
  13. Merendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan tusukan jarum ke dalam vena sampai terlihat darah mengalir keluar dari pembuluh darah.
  14. Melepaskan tekanan manset
  15. Sambungkan slang infus dengan kateter infus (abbocath, wing needle/butterfly) dan buka klem infus sampai cairan mengalir lancar.
  16. Mengolesi dengan salep betadine di atas penusukan
  17. Memfiksasi posisi jarum dengan plester, letakkan kasa steril diatasnya. Atur kasa steril pada lokasi jarum supaya berjendela agar mudah dievaluasi terhadap tanda-tanda inflamasi. Bila ada gunakan plester steril yang transparan.
  18. Mengatur tetesan infus sesuai ketentuan; pasang stiker yang sudah diberi tanggal pada lokasi yang mudah terlihat.
  19. Mendokumentasikan waktu pemberian, jenis cairan dan tetesan, jumlah cairan yang masuk, waktu pemeriksaan kateter (terhadap adanya embolus), serta reaksi klien (terhadap cairan yang telah masuk q Tempat/ lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus
Hal-hal yang perlu diperhatikan ( kewaspadaan)
  • Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru
  • Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi
  • Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
  • Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukanKencangkan klem infus sehingga tidak mengalir
  • Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus
  • Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu)
Vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intravena. 
Vena-vena tersebut diantaranya adalah :
  1. Metakarpal
  2. Sefalika
  3. Basilika
  4. Sefalika mediana
  5. Basilika mediana
  6. Antebrakial mediana
Pemilihan Vena
  1. Vena tangan paling sering digunakn untuk terapi IV rutin
  2. Vena lengan depan : periksa dengan teliti kedua lengan sebelum keputusan dibuat, sering digunakan untuk terapi rutin
  3. Vena lengan atas : juga digunakan untuk terapi IV
  4. Vena ekstremitas bawah : digunakan hanya menurut kebijakan institusi dan keinginan dokter
  5. Vena kepala : digunakan sesuai dengan kebijakan institusi dan keinginan dokter ; sering dipilih pada bayi
  6. Insisi : dilakukan oleh dokter untuk terapi panjang
  7. Vena subklavia : dilakukan oleh dokter untuk terapi jangka panjang atau infus cairan yang mengiritasi (hipertonik)
  8. Jalur vena sentral: digunakan untuk tujuan infus atau mengukur tekanan vena sentral
    Contoh Vena sentral adalah : v. subkalvia, v. jugularis interna/eksterna, v. sefalika atau v.basilika mediana, v. femoralis, dll.
  9. Vena jugularis : biasanya dipasang untuk mengukur tekanan vena sentral atau memberikan nutrisi parenteral total (NPT) jika melalui vena kava superior.
  10. Vena femoralis : biasanya hanya diguakan pada keadaan darurat tetapi dapat digunakan untuk penempatan kateter sentral untuk pemberian NTP.
  11. Pirau arteriovena (Scribner) : implantasi selang palastik antara arteri dan vena untuk dialisis ginjal
  12. Tandur (bovine) : anastomoisis arteri karotid yang berubah sifat dari cow ke sistem vena ; biasanya dilakukan pada lengan atas untuk dialisis ginjal
  13. Fistula : anastomoisis bedah dari arteri ke vena baik end atau side to side untuk dialisis ginjal
  14. Jalur umbilikal : rute akses yang biasa pada UPI neonatus
Nah itulah  Teknik Pemasangan infus semoga bermanfaat.

Posted By Belajar Askep
Jangan Asal CoPas!!! baca aturannya Disini
Thank You So Much!
Kalau sudah membaca silahkan isi Buku Tamu
Terima kasih telah membaca artikel: Pemasangan Infus Silahkan baca artikel Blog ©Belajar Askep Lainya Dibawah ini:
Advertisement below...!
 
© Copyright 2011 : Belajar Askep
All Rights Reserved | About | Privacy | Contact | T O S | Sitemap | Stylished by Ahmad Soleh Powered By Blogger
^_^ Submit | Template dari : Free Blogger Templates | Member Area | Report | Report | Log In | Log Out
Ping your blog, website, or RSS feed for Free | |